Artikel Oleh: Aulya Pradita,Jurusan Manejemen Universitas Airlangga (Unair) Perguruan Tinggi Negeri di Surabaya, Jawa Timur.
SURABAYA,Detikindo24.com -Di dunia pendidikan sekarang terutama lingkup perguruan tinggi, menjadi produktif tentunya menjadi tujuan bagi hampir semua mahasiswa yang aktif di berbagai organisasi, mengikuti banyak kegiatan, mendapatkan nilai diatas rata-rata, dan tetap eksis di luar kegiatan kampus tak jarang menjadi idola dan dianggap standar ideal bagi mahasiswa lain.
Namun sayangnya banyak orang yang masih belum paham dan tidak dapat mengukur seberapa besar kapasitas dirinya sendiri. Dari sinilah fenomena “toxic productivity” mulai banyak bermunculan.
Toxic productivity merupakan dorongan yang tidak sehat dan berlebihan untuk terus berkegiatan setiap saat agar seseorang tetap merasa produktif, bahkan ketika keadaan dirinya sudah tidak sanggup secara fisik maupun mental. Kondisi ini dapat bermunculan karena lingkup pendidikan yang semakin kompetitif.
Banyak mahasiswa yang masih salah kaprah mengartikan kata produktif itu sendiri. Produktivitas tidak lagi dinilai dari kualitas kegiatan serta manfaatnya bagi diri sendiri maupun sekitarnya, melainkan seberapa banyak kegiatan yang diikuti. Masih banyak yang beranggapan bahwa mahasiswa produktif berarti harus sibuk setiap saat, menghabiskan waktu untuk kuliah, organisasi, magang, lomba, serta menjalankan banyak proyek.
Memang hal itu tidak akan sia-sia apabila dilakukan, namun jika terlalu ekstrem maka dampaknya juga akan buruk. Sebab akan semakin banyak mahasiswa yang merasa jika terdapat waktu luang adalah bentuk kemalasan dan akan sangat rugi apabila digunakan untuk istirahat.
Secara psikologis, toxic productivity ada kaitannya dengan perfeksionisme yang tidak sehat. Flett dan Hewitt (2020) menjelaskan bahwa tipe perfeksionisme ini akan membuat seseorang merasa cemas dan tidak bernilai apabila tidak selalu produktif. Pada Sebagian mahasiswa, hal ini kerap terlihat dari bagaimana kebiasaan mereka yang selalu berkegiatan setiap saat, tidak menggunakan waktu untuk istirahat sama sekali, dan merasa menyesal jika ada waktu untuk bersantai meskipun sedikit.
Jadi mereka akan memaksakan diri mereka sendiri dalam berbagai kondisi, sekalipun saat sudah merasa tidak sanggup dan tertekan.
Faktor lain yang membuat fenomena toxic productivity semakin marak adalah karena pengaruh media sosial. Platform media sosial seperti Instagram, Tiktok, ataupun Linkedln kerap menjadi pemicu yang serius, sebab banyak menampilkan pencapaian dan aktivitas orang lain yang bisa dibilang sangat aktif. Akibatnya, sebagian mahasiswa akan lebih merasa tertinggal dan membandingkan diri mereka sendiri dengan orang lain. Tentunya hal yang akan mereka lakukan adalah lebih mendorong bahkan memaksakan diri untuk mengejar standar yang terkadang kurang realistis untuk dicapai dalam proses singkat.
Hal-hal ini sangat berdampak pada kesehatan mental seseorang. Mahasiswa yang mengalami toxic productivity akan lebih mudah mengalami stress, kecemasan berlebihan, ketidakseimbangan emosi, hingga penurunan bahkan kehilangan rasa puas terhadap pencapaian yang telah diraih.
Dewi dan Prasetya (2023) dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa mahasiswa yang terlalu berlebihan menuntut diri untuk selalu produktif akan memiliki tingkatan stres akademik yang lebih tinggi. Jika seperti itu, maka proses belajar akan terasa lebih berat dan menjadi beban.
Dalam rentang waktu yang lama, toxic productivity dapat menimbulkan burnout, cemas berlebih, hingga depresi ringan. Mahasiswa dapat beranggapan bahwa hidupnya hanya berpatok pada hasil dan target, tanpa ada ruang untuk istirahat. Bahkan sebagian besar dari mereka sebenarnya tidak sadar bahwa mereka sedang ada di lingkaran produktivitas yang tidak sehat.
Disebutkan juga oleh Syahrani dan Wahyuni (2022) bahwa toxic productivity juga dapat muncul karena budaya kampus masa kini banyak menekankan kuantitas pencapaian. Sehingga makin sengit persaingan antar mahasiswa untuk berlomba-lomba agar terlihat unggul dan berpengalaman. Lama kelamaan makin banyak statement jika tidak beraktivitas aktif maka waktu seseorang akan terbuang.
Sebenarnya hal tersebut akan berdampak positif apabila tidak ditanggapi secara berlebihan.
Toxic productivity dapat mulai diatasi apabila mahasiswa mulai belajar memahami bahwa produktivitas tidak hanya diukur dari banyaknya kegiatan yang diikuti dan satu-satunya standar untuk bisa dikatakan berhasil. Kesehatan fisik dan psikis adalah hal yang harus sangat diperhatikan juga.
Mahasiswa bisa mulai belajar untuk lebih memahami batasan kemampuan diri dan mengerti bahwa tubuh juga perlu waktu untuk istirahat, bukan semata-mata berarti malas, justru merupakan bagian penting dari proses belajar. Karena dengan istirahat, seseorang dapat tetap tenang dan menikmati proses yang dilalui bukan sekadar berorientasi pada hasil. Dari faktor eksternal, lingkungan kampus juga berperan penting.
Itu semua juga dapat diadakan program konseling bagi mahasiswa yang ingin berkonsultasi dengan seorang ahli, entah berbagi cerita mengenai kehidupan kampus maupun pribadi. Disamping itu, mahasiswa sangat perlu memulai langkah baru dengan lebih mencintai diri sendiri, contoh sederhana dengan melakukan kegiatan yang disukai seperti menonton film favorit misalnya, serta tentunya berhenti membandingkan pencapaian dengan kesuksesan orang lain di media sosial dan memahami bahwa setiap orang memiliki jalan yang berbeda.
Fenomena toxic productivity mengajarkan jika seseorang terlalu fokus pada hasil yang sempurna dan berpatok pada kesusksesan tanpa menyadari batas kemampuan justru malah akan berdampak lebih negatif bagi diri sendiri. Produktivitas yang ideal adalah ketika seseorang tetap ingin berkembang dan belajar, namun tetap dengan adanya ruang istirahat. Dengan kombinasi tersebut, mahasiswa akan dapat menjalani kehidupan akademik yang lebih sehat dan nyaman.






