TULUNGAGUNG,Detikindo24.com -Mengaku pernah bekerja di pemerintahan desa sebagai kasun (Kepala Dusun), Mbah latif Warga Desa Sumberbendo, Kecamatan Pucanglaban, Kabupaten Tulungagung, meminta Aparat Penegak Hukum agar mendatangi desanya.

Pasalnya, selama mbah latif magang jadi kasun, banyak tidak disukai oleh kades dan perangkatnya.

Alasannya mereka semua tidak mau di ingatkan untuk berbuat jujur.

Dampaknya mbah latif di sisihkan, tidak pernah di beri tahu anggaran dan program di desanya,terutama wilayah di dusun yang dia pimpin.

Semoga informasi ini sampai ke pusat. saya setuju dengan program presiden prabowo memberantas korupsi.

“tolong ini tim penegak hukum, Monggo ini KPK,Kejaksaan, sumberbendo di audit ayo di audit”. Ungkap mbah latif penuh semangat

Dalam video akun Tik Tok @rizky.poerbo yang berdurasi 05.19 detik tersebut, mbah Latif dalam saat di wawancarai mengecam Berbagai program desa Sumberbendo.

Mulai program Jambanisasi yang tidak tepat sasaran, Warga miskin tidak mendapat, tapi justru dinikmati Sekdes (sekertaris desa) dan BPD. selain itu pengadaan hewan ternak Kambing, pembelian sejumlah 40 ekor dengan nilai anggaran 175 juta oleh BUMDES menurutnya tidak musyawarah dengan warga masyarakat.

Dengan penuh keberanian, mbah latif mengajak audiens hitung-hitungan harga kambing per ekor,jenis kambing, hingga dugaan uang masih tersisa, itu semua hanya di nikmati kepala desa dan para perangkat di desanya.

“ini semua belum jelas semua,tapi ini faktanya” jelas mbah latif

Kecaman dengan perkataan kotor juga tertuju kepada Bendahara desa dari mulut mbah latif “bendahara membeli tanah beratus juta, dan juga membangun jambanisasi di tanahnya dari program desa. Saudara hingga adiknya yang jadi perangkat desa serta anaknya yang akan dicalonkan tak luput ikut disorot mbah latif. sementara menurut mbah latif desa aneh, padahal negara ini republik dan bukan dinasti. Kata mbah latif

Gaji bendahara itu berapa? kok bendahara beli tanah di mana mana ratusan juta,dan bisa  membangun lapangan voly,jamban, bahkan bapaknya dapat bansos, dapat jambanisasi. Padahal sebelahnya janda tua justru tak dapat apa-apa.