Panggung Raksasa Desa Gedangsewu Meriah Pawai Budaya Tradisi, Kreativitas, dan Persatuan
Tulungagung,-14 September 2025 – Desa Gedangsewu, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, hari ini benar-benar berubah menjadi panggung budaya raksasa. Sejak pukul 07.30 WIB pagi hingga sore hari, ribuan warga berjejal di sepanjang jalan desa untuk menyaksikan Pawai Budaya Gedangsewu 2025 dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-80.
Dengan rute yang membentang di jantung desa, pawai berlangsung seharian penuh. Antusiasme masyarakat terlihat dari wajah-wajah penuh semangat, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang tua yang enggan beranjak meski teriknya matahari menemani.
Deru suara drumband pelajar membuka jalannya pawai, memecah suasana pagi dengan hentakan semangat nasionalisme. Disusul oleh parade ogoh-ogoh berukuran raksasa yang langsung memancing decak kagum warga.
Drama kolosal perjuangan menjadi salah satu titik puncak perhatian. Dengan latar musik heroik dan penampilan puluhan pemuda desa, suasana perjuangan 1945 seolah hidup kembali.
Tak hanya itu, peserta juga menghadirkan senam kreasi dan joget kreasi yang memancing keriuhan penonton. Musik ceria dan gerakan energik membuat banyak warga ikut bergoyang dan bertepuk tangan, menambah suasana semakin hidup.
Selain itu, berbagai penampilan seni tradisional, tarian daerah, dan musik rakyat turut mengisi jalannya pawai, menghadirkan nuansa perpaduan tradisi dan kreativitas modern.
Busana Bhinneka Tunggal Ika, Fantasi, hingga Kerajaan
Bagian paling ditunggu warga adalah parade busana. Tahun ini, panitia menghadirkan tema yang berlapis:
Busana Bhinneka Tunggal Ika – menampilkan kekayaan budaya Nusantara dari Sabang hingga Merauke.
Busana perjuangan – menggambarkan semangat para pejuang kemerdekaan.
Busana modern – dengan sentuhan kreasi kekinian.
Busana fantasi – berwarna-warni, unik, bahkan ada yang memanfaatkan bahan daur ulang.
Busana kolosal dan kerajaan – menghadirkan nuansa megah, lengkap dengan mahkota, kereta simbolis, dan prajurit gagah.
Suasana kian riuh ketika peserta busana kerajaan lewat, bak arak-arakan raja dan permaisuri masa lampau.
> “Saya bangga sekali, baru kali ini pawai desa kita semeriah ini. Busana kerajaan dan drama kolosal perjuangan bikin saya terharu, seperti melihat sejarah hidup kembali,” ujar Mulyani (48), warga Gedangsewu RT 02.
> “Anak-anak saya senang lihat ogoh-ogoh, senam kreasi, sampai busana fantasi. Mereka sampai minta foto-foto. Pawai ini bukan hanya hiburan, tapi juga edukasi untuk generasi muda,” kata Sujatmiko (36), warga Gedangsewu RT 04.
> “Hebat! Kreativitas warga desa sendiri bisa tampil seperti ini. Saya merasa bangga jadi bagian dari Gedangsewu,” tutur Wahyuni (29), warga Gedangsewu RT 06.
> “Capek sih dari pagi sampai sore, tapi semua terbayar. Semoga tahun depan lebih meriah lagi dan melibatkan lebih banyak kelompok masyarakat,” ungkap Parno (55), warga Gedangsewu RT 05.
Hajatan budaya ini turut dihadiri oleh Kepala Desa Gedangsewu Miswan, jajaran BPD, LPM, tokoh masyarakat, karang taruna, panitia HUT RI, pihak Kecamatan Boyolangu, perwakilan Polsek Boyolangu, Koramil, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas.
Kehadiran aparat membuat jalannya pawai dari pagi hingga sore berlangsung aman, tertib, dan tanpa gangguan berarti.
Dalam sambutannya, Kepala Desa Miswan menegaskan bahwa pawai budaya ini bukan sekadar hiburan, melainkan manifestasi nyata persatuan dan kreativitas warga.
> “Dari busana Bhinneka Tunggal Ika, perjuangan, modern, fantasi, kolosal hingga kerajaan, semua menegaskan satu hal: kita guyub, rukun, dan bangga dengan jati diri kita sebagai bangsa,” ucap Miswan dengan tegas.
> “Anak-anak muda jangan hanya menonton, tapi harus jadi pelaku utama pelestarian budaya. Mari kita jaga warisan leluhur sekaligus berani menciptakan inovasi baru untuk masa depan Gedangsewu yang lebih maju,” tandasnya.
Menjelang sore, iring-iringan terakhir melewati garis finish. Meski lelah, warga tetap bersorak, mengiringi peserta dengan tepuk tangan panjang.
> “Capek sih berdiri dari pagi, tapi terbayar dengan penampilan yang megah. Tahun depan harus lebih besar lagi,” tutur Parmin (60), seorang pensiunan guru yang tak pernah absen mengikuti pawai desa.
Pawai Budaya Gedangsewu 2025 ditutup dengan doa bersama dan penampilan kolaboratif peserta. Acara ini menjadi bukti bahwa kebersamaan, gotong royong, dan rasa bangga pada budaya lokal masih mengakar kuat di tengah masyarakat.
Gedangsewu hari ini bukan sekadar desa, melainkan panggung persatuan yang menunjukkan wajah Indonesia dalam kemeriahan HUT RI ke-80.(Ft)





